Ciri-ciri implementasi kurikulum berbasis kesetaraan gender, antara lain: pertama, semua peserta didik memperoleh kesempatan yang sama dalam memperoleh pengalaman belajar sebagaimana yang tertera dalam kurikulum yang berlaku; kedua, materi pembelajarannya dikembangkan dari berbagai sumber dan tidak bisa gender; dan ketiga, menekankan pada partisipasi yang sama semua peserta didik dalam proses transmisi dan transformasi pengalaman belajar di sekolah.

Berdasarkan uraian di atas, sesungguhnya, implementasi kurikulum berbasis kesetaraan gender dipandang relevan diterapkan dalam kurikulum yang berlaku pada saat ini, yaitu KTSP. Model implementasi kurikulum berbasis kesetaraan gender sesuai dengan hakekat proses pendidikan yang pemanusiaan peserta didik. Proses pendidikan merupakan proses pengembangan segenap potensi peserta didik.

Bagaimana realisasinya di sekolah? Apabila kita sepakat bahwa model implementasi kurikulum berbasis kesetaraan gender sebagai alternatifnya, hal ini bukan berarti bahwa desain kurikulum yang ada dianggap tidak berlaku sama sekali. Di sini, diperlukan adanya berbagai modifikasi atas berbagai komponen kurikulum, terutama yang berkaitan dengan proses pembelajaranya di sekolah. Pola pengembangannya bersifat integrated.

Dua pola penerapan model implementasi kurikulum berbasis kesetaraan gender. Pertama, mengembangkan desain kurikulum (silabus dan RPP) dengan berwawasan kesetaraan gender. Artinya, aspek-aspek kurikulum yang terkait dalam desain kurikulum dikembangkan dengan mengacu pada kesetaraan gender, misalnya; pengembangan materi pembelajaran tak diskriminatif.

Kedua, menggunakan berbagai model pembelajaran berbasis kesetaraan gender dalam implementasi kurikulum yang sedang berjalan. Di sini, yang perlu ditekankan adalah memberi kesempatan yang sama semua peserta didik dalam memperoleh pengalaman belajar di sekolah sehari-hari. Model-model pembelajaran berbasis budaya yang bisa digunakan adalah model pembelajaran pemecahan masalah, model pembelajaran inkuiri, model pembelajaran kontektual, dan lain-lain.



*DI SAMPAIKAN DALAM TALKSHOW

OLEH ANIK GHUFRONI Penulis dosen FIP Universitas Negeri Yogyakarta YANG DI SELENGARAKAN HIMA SOSIOLOGI ANTROPOLOGI UNNES SEMARANG


0 komentar:

Post a Comment

Followers

Lunax Free Premium Blogger™ template by Introblogger